Selamat Datang di Website resmi GPIB “PETRA” DKI Jakarta //Jadwal Ibadah Minggu // Gereja “BETHESDA” Pkl: 06:00, 09:00, 17:00 WIB, Jl. Pepaya IVa No 50 Jakarta Utara // Gereja “KEBANGKITAN” Pkl: 06:00 WIB, Jl. Mundu No 62 Lagoa -Jakarta Utara // Gereja “GKI-MELUR” Pkl: 16:00 WIB, Jl. Sunter I No 2 Sunter Dua – Jakarta Utara // POSPEL “MARUNDA LAND” Pkl: 09:30 WIB, Jl. Pantai Modern Selatan D3/20 Marunda Land – Bekasi

THINK BEFOR POSTING : Gereja dan Literasi Digital

Arti penting judul tulisan ini hendak menanggapi krisis dalam berinternet dan penggunaan media social dalam lingkup kehidupan warga gereja. Sebuah tantangan baru diera baru dimana gereja terpanggil bukan untuk menjadi sama dengan dunia, namun menggunakan hikmat-Nya dalam memenuhi visi dan misi-Nya di dunia. Teknologi digitaldi era internet dan media social perlu dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengungkapan hikmat-Nya bagi kemajuan hidup manusia.

Sebagai fakta social yang tidak terbantahkan bahwa kian hari tattanan kehidupan kita telah terdigitalisasi. Kita telah ada dalam ruang lingkup kehidupan hasil dari evolusi sekaligus revolusi 4.0, dan penekanan masyarakat 5.0 .. Sebuah era yang semestinya dipahami sebagai anugrah dari Allah kepada umat manusia yang tidak terpisahkan dari rancangan damai dan sejahtera-Nya ( Yesaya 55 : 8 – 9 ).

Sekalipun era digital ini menghadirkan peluang meningkatkan keberhasilan dalam membangun kualitas kehidupan lebih baik lagi, namun senyatanya evolusi dan revolusi era digital ini melahirkan era disrupsi ( gangguan ) atau hadirnya kekacauan oleh karena berubahnya cara melakukan sesuatu dalam semua bidang kehidupan. Tanpa pengetahuan yang baik dalam menyingkapinya, maka prilaku internet dan penggunaan media social akan menjadi perangkap baru yang menjauhkan manusia dari tujuan penciptaan kehidupan di dunia ini.

Keberadaan Internet dan media sosial telah menjelma menjadi alat yang menciptakn penjara atau pencipta keterasingan baru. Prof. Sherry Turkle dari MIT Institute ( 2012 ) menerangkan bahwa keberadaan teknologi Internet dan ragam aplikasinya berhasil menghubungkan kita dengan siapa saja, namun sekaligus menjadikan kita terasing satu sama lainya. Ikatan ikatan emosional yang tadinya kuat dalam ruang pertemuan nyata ( langsung ) melemah dengan luas dan intensifnya penggunaan media internet dan social tersebut. Banyak orang lebih memilih berkomunikasi dengan mereka yang terpencar di segala tempat, ketimbang mereka yang berada persis ditempat dimana dia berada. Kondisi ini menghasilkan sebuah kenyataan sosial baru yakni, “Keterdekatan yang jauh dari kejauhan yang dekat”. Sebatas dan semata relasi fisik belaka, nihil relasi spikis, terlebih dimensi batiniah.

Mereka yang berselancar dalam ruang internet dan media sosial seolah sedang melancong kedalam ruang yang tidak terbatas, sehingga pengguna bukan saja tersesat dalam keluasn ruang tersebut, namun sekaligus tidak dapat menarik dirinya keluar dari rauang tersebut ( Candu ). Semakin larut atau tenggelam dalam aktifitas didalammya, semakin terperangkap dalam ruang tak berhingga tersebut. Robert G Alen ( 2007 ) mengatakan, “ Orang yang tenggelam dalam gelombang informasi melimpah akhirnya tidak melalukan apa apa”.

Menyikapi Limpahan Informasi Dan Kemayaan Ruang Medsos.

Dalam era digital dimana gelombang informasi membawa limpahan trilyunan informasi dalam formasi acak didapati fakta bahwa limpahan informasi segala arah tidak berdampak langsung pada pertumbuhan pengetahuan pengguna internet. Bahkan dalam ruang ruang pertemuan media social komunikasi bukan saja miskin informasi berkualitas, namun menjadi ajang saling serang dengan penggunaan bahsa dan komunikasi penuh kebencian. Akibatnya perseteruan verbal ( Komunikasi ) menjadi pemandangan yang memprihatinkan. Informasi yang berharga akhirnya membawa setiap pengguna harus membayar banyak harga seperti kehilangan relasi social, terjerat kasus hukum, rusaknya kepercayaan social ( public ) pada agenda lain, misalnya misi gereja itu sendiri. Gereja kehilangan posisi sekaligus daya ubah dalam kehidupan sosialnya.

Ada yang beranggapan bahwa keberadaan internet dan media social adalah ruang maya, ruang yang jauh dari fakta social senyatanya, karena setiap orang menganggap bahwa interaksi mereka satu sama lainnya semu adanya dan tidak mengandung bahaya. Sesama pengguna memandang bahwa orang dalam ruang media social adalah sebatas “ Avatar” atau symbol kehadiran yang maya. Padhal, menurut Joseph. B. Walther (1992), Profesor Universitas Cornell, pada dasarnya pertukaran pesan social baik dalam media social dan tatap muka langsung memiliki peluang yang sama untuk mendekatkan relasi individu ( Membangun persekutuan) dan tentunya berpeluang menghancurkan ( Penulis ). Dengan demikian kesan bahwa seseorang dapat mengatakan apa saja dalam ruang media social sesungguhnya pikiran atau pandangan sempit dan berbahaya. Alkitab jelas mengatakan, “ Menurut ucapan mu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapan mu pula engkau akan dihukum.” ( Matius 12 : 37 ).

Sikap Spontanitas yang Berbahaya

Lain kasus lagi adalah munculnya kebiasaan berbagi konten atau berita. Isu yang sifatnya didorong oleh semangat spontan. Artinya ide yang terlintas tanpa di timbang secara seksama lansung dipublikasikan atau di bagikan. Memang niat untuk berbagi adalah baik, namun tanpa kebiasaan menimbang baik buruknya pesan dapat membawa “ Bencana komunikasi “ ( Communication Disaster) .

Kondisi ini tentu perlu disikapi dengan membangun kesadaran bahwa komunikasi diruang media social memiliki kesamaan tuntutan sekalipun pendekatan yang berbeda. Pada dasarnya prinsip komunikasi adalah memperkaya kehidupan teman berkomunikasi. Memperkaya relasi social yang membuka kemungkinan terjadinya kerjasama dalam kehidupan Nyata ( Offline ). Karena itu, pemilikan informasi yang baik ( Well Information ) dan cara penyampaian menjadi pra syarat yang mutlak di kedepankan.

Metode Berinternet dan Bermedia Sosial

Berikut dapat digunakan metode atau prinsip berkomunikasi dalm ruan media social ( Daring ). Metodenya adalah T H I N K ( Boonda.id, 2017) prinsip berkomunikasi ini mencakup pengertian ;

Pertama T : Is it True ? Apakah hal yang dibagikan tersebut sungguh sungguh memiliki nilai kebenaran bukan sebuah perkiraan.

Kedua H :  Is it Helpful ? Apakah pesan yang dibagiakan dapat membantu atau menolong memecahkan masalah orang lain.

Ketiga I : Is it Ilegal ? Apakah hal yang kita sampaikan tidak melanggar hukum, atau hak cipta Seseorang ?

Kempat N: Is it Necessary ? Kita berpikir apakah yang disampikan memang perlu ?. Seberapa penting hal itu disampaikan.

Keliama K : Is it Kind ? Apakah bahas yang digunakan dan maknanya sudah baik, sebab Bahasa Tulis tidak memiliki bunyi dan cenderung memiliki banyak arti. Karena itu wajib memilih kata yang dapat menimbang segi keberadaan pembaca.

Norma atau kaidah yang dapat dipakai sebagai rujukan dalam menggunakan media social adalah bagaimana kita dapat menjadi pengguna yang membangun dan menghibur. Menjadi pengguna internet dan media social yang mengedepankan aspek sebagaimana ditekankan Paulus dalam suratnya yang menyatakan “ Jadi akhirnya saudara saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkan lah semua itu “ ( Filipi 4 : 8 ). Dengan kata lain, sebarkanlah ( Publish/ Posting ) semua hal yang terkandung dalam pesan Filipi tersebut.

Dibutuhkan suatu sikap, pendekatan prilaku yang cerdas. Gereja perlu menjadi gereja yang bukan saja cerdas ( Smart Church ), namun gereja yang diberkati ( Blessed Church ). Gereja yang cerdas tidak selalu menjadi gereja yang diberkati. Sementara gereja yang diberkati sudah tentu menjadi gereja yang cerdas.

Setiap pengguna internet dan media social perlu dituntun, diterangi oleh kebenaran firman sebagaimana pengakuan Daud bahwa Firman Nya adalah Pelita bagi langkah kehidupannya ( Mazmur 119 : 105 ). Pengguna perlu menanam akarkan kebenaran firman Nya sebagai satu satunya panduan hidup dengan segala aktifitasnya, dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Apapun yang kita lakukan dalam ruang internet dan media social perlu mengungkapkan kemuliaan Allah ( Band 1 Korintus 10 : 31 ). Satu satunya alasan kita hidup didunia ini adalah untuk membuat Gambar Sang Khalik menjadi “ Jelas dan Nyata” dalam semua bentuk kehadiran kita. Sebab kita memang adalah “ Segambar dan Serupa dengan Nya. “ Akhirnya, selamat berinternet ddan menggunakan media social untuk satu satunya alasan, yakni kemuliaan nama Nya.

 

Pdt, Dr. Bartolomius Padatu M.Th.,MPA. Dosen Sekolah Tinggi Theologia Indonesia Timur ( INTIM )

Makasar dan Pdt. GPIB Jemaat Bethania Makasar.

Saduran SABDA BINA UMAT

Facebook Comments

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *